BERBAGI

Pukat – Sejumlah warga di Desa Salit, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, menolak jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19, Selasa (26/5). Karena penolakan itu, jenazah PDP wanita berinisial SU (53) dimakamkan di Kota Medan.

Dari informasi yang dihimpun, SU sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Kabanjahe. Ia berstatus PDP karena memiliki gejala sesak napas.

Jenazah SU pun rencananya dimakamkan di Desa Salit, Tanah Karo. Namun warga menolak karena belum mendapatkan sosialisasi pemakaman corona dari tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sumut.

Jenazah SU dibawa ke Medan dan dimakamkan di pemakaman khusus corona yang berada di Kelurahan Simalingkar, Kecamatan Pancur Batu.

  Daftar 27 Hotel di Jakarta yang digunakan untuk Isolasi Pasien Covid-19

Kepala Dinas Kesehatan Tanah Karo Irna Safrina saat dikonfirmasi membenarkan penolakan jenazah SU.
“Iya benar, penolakan tersebut terjadi kemarin,” ujar Irna, Rabu (27/5).

Namun, Irna tidak menjelaskan secara mendetail riwayat penyakit SU dan kronologi penolakan. Hanya saja dia memastikan dari hasil rapid test, SU diketahui non-reaktif virus corona.

Ia mengatakan jenazah SU dimakamkan dengan protokol COVID-19 karena berstatus PDP.
“Hasil rapid testnya non-reaktif,” ujar Irna.

Terpisah, Wakil Ketua Gugus Tugas COVID-19 Sumut Alwi Mujahid mengaku sangat menyayangkan penolakan jenazah PDP tersebut. Menurutnya, peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan yang siapa saja bisa mengalaminya.

  Pemerintah Akan Prioritaskan 1,3 Juta Vaksin untuk Tenaga Medis

“Kalau ada yang seperti itu, kita harus ikut prihatin. Bukan justru menstigma, mengucilkan dan menolak. Karena semua orang bisa kena dan tidak ada yang mau kena, kebetulan pada tempat yang salah kena virus ini kenalah, dia meninggal,” ujar lelaki yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan Sumut tersebut.

Alwi membantah terkait kurangnya sosialisasi soal COVID-19 oleh Gugus Tugas Sumut kepada masyarakat. Sejauh ini, kata dia, sosialisasi yang dilakukan Gugus Tugas sudah sangat maksimal.

“Kalau sosialiasi, sudah jenuh (masyarakat) dengan sosialisasi, yang ada kayak angin lalu aja itu memang. Ini persaudaraan kita sangat rapuh. COVID ini mempertontokan kita seolah berkawan, bagus, dan apa adanya. (Kita) Bersaudara bagus. Ternyata tidak rupanya,’’ ujar Alwi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here