BERBAGI

PUKAT – Buronan kasus hak tagih (cessie) Bank Bali, Joko Tjandra, ternyata sempat membuat e-KTP sebelum mengajukan Peninjauan Kembali (PK) di PN Jaksel. Nama dalam e-KTP itu tertulis Joko Soegiarto Tjandra.

“Joko Tjandra mengajukan PK tanggal 8 Juni 2020 menggunakan KTP yang baru dicetak pada hari yang sama,” ujar Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman, Senin (6/7/2020).

Boyamin menyatakan data e-KTP Joko Tjandra itu berbeda dari dokumen lama. Boyamin juga menilai Joko Tjandra seharusnya tidak bisa melakukan rekam data e-KTP, karena sesuai ketentuan datanya nonaktif.

  Dituding Bermewah-Mewahan, ICW Disuruh Datang Ke Rumah Wakil Ketua KPK

“Joko Soegiarto Tjandra karena di luar negeri hingga Mei 2020 dan tidak melakukan rekam data KTP elektronik maka sesuai ketentuan datanya nonaktif sejak 31 Desember 2018,” ujar Boyamin.

“Meskipun datanya telah nonaktif, ternyata Joko S Tjandra diduga bisa melakukan cetak KTP elektronik pada tanggal 8 Juni 2020 dan diduga melakukan rekam data pada tanggal yang sama, 8 Juni 2020,” imbuhnya.

  Menolak Pemakaman Jenazah Perawat Terpapar Covid-19, 3 Warga Divonis 4 Bulan Penjara

Rekam data itu disebut Boyamin dilakukan Joko Tjandra di kantor Dinas Dukcapil Jakarta Selatan yang berada di Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama. Perihal ini disebut Boyamin dilaporkannya ke Ombudsman.

“Semestinya Joko Soegiarto Tjandra tidak bisa mencetak KTP dengan identitas WNI dikarenakan telah menjadi Warga Negara lain Papua Nugini dalam bentuk memiliki paspor Negara Papua Nugini. KTP baru Joko Soegiarto Tjandra tertulis tahun lahir 1951, sementara dokumen lama pada putusan PK tahun 2009 tertulis tahun lahir 1950,” ucap Boyamin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here