BERBAGI
Peminat Properti Harga di Bawah Rp 300 Juta Masih Tinggi

Pukat – Kondisi pasar perumahan Jabodebek- Banten sebagai benchmark pasar perumahan Nasional memperlihatkan tren penurunan merata.

Berdasarkan laporan Indonesia Property Watch ( IPW) yang berjudul Tren Pertumbuhan Penjualan Perumahan pada Kuartal I-2020 mengalami penurunan nilai jual cukup signifikan.

Penurunan Nilai Penjualan Perumahan Rata-Rata terjadi hampir merata di seluruh wilayah survei dengan penurunan tertinggi berada di Bekasi sebesar 56,0 persen persen.

Diikuti Bogor 55,3 persen, Depok 50,9 persen, serta wilayah lainnya. Penurunan terendah terjadi di Cilegon sebesar 27,2 persen.

Survei dilakukan terhadap 95 proyek perumahan yang terbagi dalam empat wilayah besar yaitu Jakarta, Bekasi, Bogor (termasuk Depok), dan Banten (Serang, Cilegon, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang).

Indonesia Property Watch (IPWTren Pertumbuhan Penjualan pada Kuartal Pertama 2020

Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda mengatakan, Wabah Covid-19 melemahkan sektor properti, dan penurunan tajam penjualan mulai terlihat sejak pertengahan Triwulan Pertama.

  Konsultan: Pasar Properti di Jakarta akan Normal Pada 2022

Melihat kondisi ini, Ali memperkirakan pasar properti akan terus berlanjut pada Triwulan Kedua dan Ketiga.

“Penjualan pasar perumahan di wilayah Jabodebek-Banten akan mengalami penurunan terdalam bila wabah Covid-19 berkepanjangan,” tutur Ali dalam siaran langsung bersama Direktur Utama Bank BTN dan Para ketua Asosiasi Perumahan, Rabu (20/5/2020).

Menurutnya, daya beli segmen bawah yang sebagian besar didominasi oleh end-user diperkirakan akan semakin tergerus.

  Terlibat Sengketa Lahan dengan PT KAI, Pemkot Mojokerto dan DPD RI akan Surati Jokowi

Sementara, di segmen menengah kemungkinan akan terjadi penurunan pada Triwulan Keempat karena daya beli yang mulai tidak stabil.

Sedangkan di segmen atas yang notabene investor, diperkirakan akan tetap mempunyai daya beli dan bahkan dapat menjadi ‘penyelamat’ pasar perumahan saat situasi mulai membaik.

“Penurunan yang terjadi lebih dikarenakan faktor psikologis dalam menunda pembelian,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here