BERBAGI

Pukat –  Kerugian senilai lebih dari S$ 30 juta telah dilaporkan oleh para pekerja paruh waktu di industri kreatif di Singapura sejak langkah-langkah pengendalian coronavirus diberlakukan. Pandemi Covid-19  juga telah mengganggu kehidupan banyak orang. Untuk mendukung komunitas seni lokal di Singapura, sekaligus untuk menumbuhkan semangat orang-orang yang tengah berjuang melawan Covid-19, Singapore International Foundation (SIF) menginisiasi program ‘Gift A Song Project’.

” Sebagai bagian dari upaya untuk menyatukan komunitas dunia yang lebih baik bahkan di tengah pandemi, maka diwujudkan Gift A Song Project, sebuah proyek kolaborasi antara SIF dan musisi lokal di Singapura,” Jean Tan, Executive Director, SIF dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu (3/6).

Menurut Jean, inisiatif ini memungkinkan individu untuk mempersembahkan lagu kepada seseorang yang mereka kenal dan tengah berjuang melawan coronavirus, baik yang berjuang dengan kerugian ekonomi, bekerja di garis depan layanan kesehatan dan layanan esensial lainnya, atau untuk mereka yang membutuhkan dukungan selama karantina. Hal ini juga merupakan salah satu cara SIF untuk memberikan dukungannya kepada komunitas seni lokal di Singapura di masa yang penuh tantangan ini.

“Dipimpin oleh veteran musik lokal di Singapura dan Citizen Ambassador SIF, Clement Chow, inisiatif ini telah mengumpulkan 15 musisi lokal di negara tersebut untuk bernyanyi dan merekam lagu-lagu yang diinginkan oleh masyarakat dari rumah mereka,” katanya.

  Belum Buka untuk Internasional, Malaysia Fokus Pulihkan Pariwisata Domestik

Sejumlah artis kata Jean, akan ikut berpartisipasi, diantaranya Alemay Fernandez, Alexandra Hsieh, Benjamin Chow, Beverly Morata Graffon, Christiane Mikaela, Izat Ibrahim, Jordin Tan, Kexin Tay, Lisa Haryono, Mathilda D’Silva, Michelle Poh, Ribka Sangeetha Dorai, Syah Riszuan dan Wayne Sandosham. Dan,  sebagai bagian dari fase kedua inisiatif ini, setiap anggota masyarakat didorong untuk mengirimkan lagu dedikasi mereka melalui situs web  www.sif.org.sg/giftasong , mulai dari tanggal 26 Mei 2020 kepada seseorang yang mereka kenal , baik di Singapura maupun di luar negeri dan yang memerlukan penghiburan. Dedikasi dari satu negara ke negara lain sangat dianjurkan.

” Dedikasi terpilih akan dicatat dan dikirim ke pemohon dan penerima melalui email. Video yang dipilih juga akan diunggah di media sosial SIF mulai 18 Juni 2020,” ujarnya.

Kumpulan dedikasi pertama, lanjut Jean dibuat oleh komunitas Citizen Ambassadors SIF dan mitra serta kerabat internasional dari Singapura, Kamboja, Tiongkok, India, Indonesia, Laos, Myanmar, Vietnam, dan Amerika Serikat. Disertai dengan pesan-pesan yang menggembirakan, hadiah lagu dalam berbagai Bahasa ini telah didedikasikan untuk teman-teman mereka di dalam dan luar negeri, termasuk pahlawan tanpa tanda jasa dan pejuang garis depan. Rekaman video penampilan dan dedikasi  yang telah mencapai lebih dari tiga juta pengguna telah diunggah ke saluran YouTube SIF dan kanal media sosial lainnya yaitu Facebook dan Instagram.

  Industri Olahraga Pendapatannya Berkurang Hingga 50 Persen

 ” Musik dapat menghangatkan hati, mengangkat dan memulihkan jiwa. Kita semua mengenal seseorang yang tengah berjuang melawan Covid-19, menghadap kesulitan ekonomi atau hanya membutuhkan dukungan. Dua teman saya berada di ICU dan saya berjuang dengan cara menghibur mereka yang kemudian menginspirasi ide ini. Kita dapat menyebarkan pesan positif dan solidaritas, bahkan di saat kita sedang memerangi pandemi. Sungguh menggembirakan melihat orang Singapura dan komunitas dunia bersatu untuk saling memberi semangat melalui Gift A Song Project. Proyek ini juga memungkinkan SIF untuk mendukung komunitas seni lokal kami di masa-masa sulit ini,” urai Jean.

Gift A Song Project itu sendiri, menurut Jean, adalah bagian dari inisiatif Arts for Good SIF yang bertujuan untuk membangkitkan keterlibatan masyarakat dan memanfaatkan kekuatan seni untuk perubahan sosial yang positif. Terutama dalam membantu mata pencaharian dan membina masyarakat inklusif.

Sementara itu, seniman Singapura, Clement Chow mengatakan, keindahan musik adalah mengisi jiwa tanpa batas. Hal ini memberikan jalan keluar bagi orang-orang dalam mengekspresikan diri mereka sendiri, dan dengan memanfaatkan kekuatan pemulihan dari musik. Semua orang dapat terhubung kembali dengan orang-orang yang dicintai, terutama di tengah anjuran social distancing.

  “Saya berbesar hati dengan dedikasi yang telah datang dan tanggapan positif yang dikumpulkan secara online untuk mendukung proyek ini dan masyarakat,” katanya.

  Donald Trump Sudah Kembali Ke Gedung Putih, Sembuh dari Covid-19?

Sama halnya dengan Clement, seniman lain yang ditugaskan untuk inisiatif ini Lisa Haryono, mengatakan, dirinya merasa terkesan saat diminta  menyanyikan lagu ‘Ku Bahagia’ menggunakan bahasa ibu dan dapat menyebarkan keceriaan kepada orang-orang di Indonesia. Dan, merupakan suatu kehormatan pula baginya untuk menjadi bagian dari inisiatif Gift A Song yang bermakna dan menyatukan para musisi di Singapura.

” Saya berharap lagu-lagu ini akan menghangatkan hati orang yang lelah dan mengumpulkan semua orang untuk bersatu dan memerangi virus,” katanya.

Dokter perawatan paliatif  dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI), dr Venita Eng yang meminta lagu “Ku Bahagia”, mengatakan, lagu itu didedikasikan untuk teman-teman dan rekan-rekan sekelasnya dari sekolah kedokteran, yang sekarang tengah memerangi pandemi di garis depan di Indonesia. Ia berharap lagu yang yang dinyanyikan dengan indah di proyek ini berhasil menghibur mereka di masa yang penuh tantangan ini. (GUS).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here