BERBAGI
Resesi Ekonomi, Direktur Riset CORE: Bentuk Kenormalan Baru
Resesi Ekonomi, Direktur Riset CORE: Bentuk Kenormalan Baru

Pukat- Direktur Riset Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, resesi ekonomi di masa pandemi Covid-19 merupakan hal yang wajar dan merupakan bentuk kenormalan baru.

Pasalnya, semua dunia mengalami hal yang sama, mengalami pelemahan ekonomi.

” Resesi adalah sebuah kenormalan baru setelah Covid-19, karena melanda semua negara, enggak hanya Singapura, enggak hanya Indonesia, tapi semua negara (di ambang) resesi,” ujarnya dalam webinar DBS Asian Insights Coference 2020, Kamis (16/7).

Singapura baru saja resmi mengalami resesi setelah pertumbuhan ekonominya mengalami kontraksi di kedua kuartal.

Pada kuartal I-2020 pertumbuhan ekonomi Singapura tercatat minus 0,7 persen, kemudian berlanjut minus 12,6 persen di kuartal II-2020.

  Ini yang Harus Dilakukan Perusahaan Startup di Indonesia Agar Tetap Atraktif di Tengah Pandemi

Indonesia saat ini pun sedang diambang resesi. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 akan kontraksi di kisaran minus 3,5 persen hingga minus 5,1 persen, dengan titik tengah di minus 4,3 persen.

Pada kuartal III-2020 diharapkan ekonomi Indonesia kian membaik, meski tetap berpotensi tumbuh negatif, yakni di kisaran minus 1 persen hingga positif 1,2 persen.

Sementara di kuartal IV-2020 diperkirakan bergerak ke kisaran 1,6 persen-3,2 persen.

CORE sendiri memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan minus 5 persen di kuartal II-2020, minus 3-4 persen di kuartal III-2020, serta minus 1,2 persen di kuartal IV-2020.

  Kemenko Maritim Bahas Pemulihan Ekonomi Biru di Masa New Normal

Jika hingga kuartal III-2020 Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi maka resmi masuk ke dalam resesi. Kendati demikian, Piter menilai ini kondisi wajar dan turut dialami oleh seluruh negara yang terdampak pandemi.

Piter mengatakan, hal terpenting dalam menghadapi resesi adalah bagaimana menjaga dunia usaha dan sektor keuangan bisa tetap bertahan. Sehingga pemulihan bisa berlangsung cepat, tanpa perlu masuk ke jurang krisis ekonomi.

“Walau kita masuk resesi, yang penting adalah kita enggak masuk jurang krisis,” kata dia.

Ia menambahkan, kebijakan fiskal dan moneter menjadi penting pada saat ini untuk menjaga ekonomi Indonesia. Kedua kebijakan harus saling menopang sehingga memberi stimulus pada perekonomian.

  Pertumbuhan Ekonomi 6% Bisa Dikejar Dengan Semangat New Normal

“Jadi no problem (tidak masalah resesi) dan yang penting enggak ada politisasi yang berusaha menyalahkan pemerintah. Karena di kondisi saat ini, kita butuh untuk semua punya sense of crisis dan memandang kebijakan dalam konteks krisis,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here