BERBAGI
PT Freeport Dorong SDG’s Sambil Bantu Warga Papua di Masa Covid-19
PT Freeport Dorong SDG’s Sambil Bantu Warga Papua di Masa Covid-19

Pukat- Nama Freeport tentu tak lagi asing di kalangan publik tanah air, perusahaan tambang emas di ujung timur Indonesia ini menyimpan kisah yang tak pernah habis diceritakan. Pemandangan aduhai tambang emas Freeport jika disaksikan dari ketinggian juga selalu menawan dan membuat bergidik. Bayangkan berapa ton emas yang dihasilkan tiap tahun dari tambang emas ini.

Freeport Indonesia mulai beroperasi sejak tahun 1967 Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Tarik ulur mayoritas kepemilikan perusahaan tambang emas asal Amerika Serikat ini juga tak jarang menuai polemik hingga terakhir di tahun 2019 Presiden Joko Widodo memutuskan untuk mendivestasi Freeport senilai USD 3,85 Miliar dengan mayoritas kepemilikan saham 51 persen jatuh ke tangan Indonesia.

“Freeport saat ini memiliki tambang tembaga dan emas bawah tanah terbesar di dunia. Setiap tahun Freeport Indonesia menghasilkan 3 juta ton konsentrat. Hingga saat ini Freeport mempekerjakan 7.096 Karyawan, dengan rincian 2.890 karyawan asli Papua atau sekitar 40,7 persen, non Papua 4,061 atau sekitar 57,2 persen dan tenaga kerja asing 145 orang atau sekitar 2,1 persen,” jelas Freeport Indonesia dalam siaran pers, Senin (27/7).

  PLN Mitigasi Kelistrikan Saat Musim Hujan

Baik di kuala kencana Mimika maupun di kantor pusat Jakarta, para karyawan telah dijamin dengan fasilitas berupa tempat tinggal, sarana komunal dan olah raga hingga fasilitas kesehatan agar fokus bekerja dan berproduksi tak terkecuali di masa pandemi covid-19 yang melanda nyaris seluruh belahan dunia.

“Guna menyejahterakan rakyat Papua, 40,7 persen dari karyawan Freeport juga merupakan penduduk asli Papua. Ironi tambang emas dan kondisi sosial ekonomi masyarakat Papua kerap menjadi sorotan publik media hingga kritikus sosial. UMK Mimika berkisar di angka Rp 2,4 juta,” ujarnya.

  Pertumbuhan Ekonomi 2020 Lebih Buruk Dari Krisis Global 2008

Data Balai Pusat Statistik Kabupaten Mimika tahun 2018 menunjukan jumlah penduduk miskin di Mimika mencapai 31.175 jiwa dari jumlah penduduk total sekitar 500.000 jiwa. Kategori miskin didapat dari data ketidak mampuan penduduk miskin mencukupi kebutuhan dasar yakni makanan, hal ini menjadi ironi sebab Mimika menjadi lokasi tambang emas dan tembaga bawah tanah terbesar di dunia dan alokasi APBD Mimika sekitar Rp 3,1 triliun rupiah adalah yang terbesar di antara 29 kabupaten/ kota lainnya di Papua.

Merespon ironi kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sekitar tambang emas dan tembaga Freeport Indonesia masih menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Papua. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dalam meningkatkan kesejahteraan warga Papua khususnya yang bermukim di kawasan tambang.

“Freeport Indonesia memberikan sejumlah program pelatihan kerja maupun kewirausahaan serta membangun infrastruktur termasuk infrastruktur kesehatan antara lain pelatihan profesi untuk setiap anggota suku di kawasan operasional, membina warga asli papua untuk menjadi entrepreneur, mendirikan sekolah dan asrama untuk anak-anak lokal, program pembangunan ekonomi berkelanjutan, pendirian tiga klinik kesehatan, membangun 3.200 unit rumah sejak tahun 1997 hingga 2019, juga membangun dua bandara pelopor di Desa Tsinga dan Aroanop serta Mimika Sport Complex.” tambah Freeport.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here