BERBAGI

Pukat – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memberikan kelonggaran untuk restoran/rumah makan dapat beroperasi pada masa transisi menuju masa tatanan new normal (normal baru). Hal itu guna menunjang perekonomian tanpa mengesampingkan protokol kesehatan.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat mengunjungi rumah makan Yu Sin di Jalan Sudirman, Kamis (28/5/2020) menjelaskan, pada transisi setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menuju new normal, pemkot memberikan kelonggaran bagi pengusaha kuliner untuk beroperasi.

“Hal itu, guna menyelaraskan antara protokol kesehatan dan roda ekonomi juga tetap berjalan,” kata Dedie.

Secara teknis, Dedie mengimbau agar para pengusaha patuh terhadap protokol kesehatan. Semua pengunjung dan pegawai yang berada di restoran harus dicek suhunya, jaga jarak hingga menggunakan masker, dan antiseptik.

  Begini Alur Proses Pencabutan Pembebasan Bersyarat John Kei

“Bila kita lihat protokol restoran ini sudah baik ya, pengunjungnya patuh menggunakan makser. Penyajinya pun pake face shield (pelindung wajah), pakai sarung tangan dan masker. Ini bisa jadi contoh untuk usaha kuliner lainnya di Kota Bogor,” kata Dedie.

Begitu juga dengan tata letak restoran, harus berjarak dan terpenting bahan yang disajikan memenuhi standar kesehatan. Begitu juga dengan kapasitas orang maksimal hanya 50 persen.

  PSBB DKI Berlaku Hari Ini, Ganjil-Genap Tidak Berlaku

Pemilik Yun Sin, Angela mengapresiasi kebijakan pemkot yang memperbolahkan untuk membuka penuh restoran. Kata Angela atau biasa dipanggil Ani menyebut, selama PSBB diberlakukan di Bogor, terjadi penurunan penjualan.

“Terjadi penurunan, hanya saja tidak signifikan . Karena biasa orang, khususnya orang Jakarta yang berkunjung tiap akhir pekan. Selama PSBB Yun Sin lebih banyak terima pesanan online,” katanya.

Ani menjelaskan, ada perubahan penjualan pada masa PSBB, yang biasanya ramai para Sabtu dan Minggu oleh orang dari luar Bogor, saat ini pesanan lebih banyak dari sekitar melalui pesan antar.

Terkait masa new normal, Ani menyebut hal itu merupakan peluang bagaimana Kota Bogor untuk bisa keluar dari keterpurukan wisata kuliner pada masa PSBB. Ia menilai, Kota Bogor masih menjadi primadona bagi wisata kuliner dan masih bisa bangkit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here