BERBAGI

Pukat – Inilah kisah para dokter dan perawat yang senantiasa menjalankan tugasnya menyelamatkan nyawa. Tapi virus corona terlalu berat untuk ditangani.

Unit gawat darurat, koridor-koridor rumah sakit disesaki pasien yang ketakutan, para dokter yang terpaksa mengambil keputusan berat: siapa yang akan mendapat ventilator siapa yang tidak.

Kita telah melihat kesedihan dan kekecewaan di balik masker para tenaga medis. Mayat-mayat korban bergelimpangan, bahkan ada yang dikuburkan bertumpuk-tumpuk dalam satu lubang.

Semua ini terdengar seperti kejadian ratusan tahun lalu. Atau, jika terjadi sekarang, tempatnya di negara yang jauh.

Tapi ini benar-benar terjadi. Kekayaan dan obat-obatan modern yang dimiliki negara-negara “dunia pertama” ternyata tak dapat mencegah penyebaran COVID-19 yang mengerikan bagi warganya.

Tidak ada penjelasan tunggal

Kita sudah tahu penyebab utamanya: respon yang lambat, kurangnya alat tes dan alat pelindung diri (APD) di banyak negara. Dalam hal ini, Australia menjadi contoh keberhasilan di antara negara-negara kaya.

Menurut para pakar, ada beberapa faktor mengapa negara lain dalam kelompok negara kaya mengalami kegagalan yang begitu buruk.

Data dari Universitas Johns Hopkins di Amerika Serikat mengungkap sejumlah hal. Tapi mungkin yang paling menyolok adalah AS, Inggris, Italia, Prancis, dan Spanyol kini memiliki 70 persen dari total kematian COVID-19 di dunia.

  Ma'ruf Amin Ungkap Usia 15-35 Tahun Rentan Penyalahgunaan Narkoba

Semua negara itu kaya dan memiliki sistem kesehatan yang canggih. Meski persentase kematian sudah menurun, namun pukulannya sudah begitu berat, dan bahkan potensi ancaman di masa depan tetap nyata.

Negara seperti Rusia dan Brasil sekarang terancam masuk dalam negara-negara yang paling parah tersebut.

Sementara banyak negara miskin dan berpenghasilan menengah, sejauh ini selamat dari kondisi kematian seperti yang dialami negara-negara kaya.

Tidak ada penjelasan tunggal untuk memahami hal ini. Namun ada beberapa pengamatan umum yang masuk akal.

Dampak dari perjalanan internasional

Negara-negara yang paling terpukul merupakan negara yang paling banyak pergerakan manusianya secara internasional, dengan bandara-bandara tersibuk di dunia, dikunjungi ratusan juta penumpang setiap tahun.

Warga dari negara-negara kaya banyak melakukan perjalanan internasional dan menikmati hubungan perdagangan global terutama dengan China, tempat wabah ini bermula.

Perjalanan internasional ini tidak diragukan lagi telah menyebarkan virus corona dengan cepat dan efisien.

Faktor ini mengurangi kesempatan merespon penyebaran virus bagi kota-kota kosmopolitan seperti New York, London dan Paris.

Posisi mereka sebagai pusat internasional, justru membawa malapetaka.

  Update Corona 24 Oktober: 39.922 Spesimen Diperiksa

Kurangnya perjalanan ke negara-negara berpenghasilan rendah hingga menengah membantu menjelaskan mengapa umumnya mereka selamat dari virus, setidaknya pada hari-hari awal pandemi.

Menurut Profesor Tony Blakely, ahli epidemiologi dari University of Melbourne, faktor ini menjadikan negara-negara tersebut memiliki lebih banyak waktu dalam merespon virus.

“Virus itu datang dari China dan menyebar ke negara-negara Asia Timur, kemudian dengan cepat menyebar ke Eropa dan Amerika Utara daripada misalnya ke India atau Afrika,” katanya kepada ABC.

Dr Abrar Chughtai dari UNSW Sydney sependapat bahwa rendahnya jumlah “penyebar” dapat menjelaskan mengapa beberapa negara selamat sejauh ini.

“Untuk memulai pandemi, diperlukan sejumlah kasus penyebar dalam masyarakat,” katanya.

“Di Australia kita tidak memiliki jumlah penyebar yang tinggi. Tapi hal itu terjadi di AS dan negara lainnya, mungkin karena perjalanan internasional yang tinggi,” katanya.

Namun keuntungan negara-negara lain akibat kurangnya faktor perjalanan internasional dapat menghilang dalam beberapa minggu mendatang.

Dampak kesehatan dan demografi

Tak seperti flu Spanyol 100 tahun lalu yang membunuh jutaan orang berusia muda dan sehat, pandemi kali ini lebih banyak mengorbankan orang berusia tua.

Profesor Blakely mengatakan, faktor usia dan bertambahnya populasi yang menua, merupakan salah satu faktor besarnya dampak COVID-19 pada beberapa negara.

  107.863 Orang di Indonesia Suspek Virus Corona

“Kemungkinan kematian setelah terinfeksi virus sangat bervariasi berdasarkan usia,” katanya.

“Dari yang sangat kecil untuk usia di bawah 20 tahun, peluangnya satu per 10.000, kemudian naik 10 persen bahkan mungkin 15 persen, bagi yang berusia lebih dari 80 tahun,” jelasnya.

Profesor Blakely mengatakan struktur usia yang lebih muda dari beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah mungkin mendorong berlakunya “kekebalan kawanan” atau herd immunity.

Menurut Mary-Louise McLaws dari WHO, usia merupakan faktor yang sangat penting terkait COVID-19.

“Di Italia, mereka memiliki proporsi populasi lansia tertinggi di Eropa,” katanya kepada ABC.

“Jadi, sekitar seperempatnya berusia 65 tahun ke atas, dan tentu saja, tingkat merokok sangat tinggi, ditambah tingkat komorbiditas yang juga tinggi,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here