BERBAGI

Pukat – Indeks demokrasi Indonesia menunjukkan simpulan yang kurang lebih serupa. Demokrasi Indonesia mengalami kecenderungan menurun. Setidaknya itu terkonfirmasi dari penilaian banyak lembaga. Karena itu, momentum 22 Tahun reformasi menjadi saat tepat untuk mengevaluasi perjalanan demokrasi Indonesia. Bahkan, ada yang menyebut, demokrasi Indonesia dikorupsi.

” Apa penyebab kemunduran demokrasi Indonesia? Benarkah civil society kurang mampu menjadi kekuatan penyeimbang? Apa yang harus dilakukan untuk keluar dari krisis demokrasi? Apakah para aktivis 98 yang kini menjadi bagian elite tetap konsisten mengawal agenda reformasi? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menarik untuk dikupas,” kata Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima Indonesia) Ray Rangkuti, di Jakarta, Kamis (4/6).

  Pasca-Lebaran Pasar Tanah Abang Masih Sepi Dibandingkan Ramadan

Menurut Ray, tidak salah jika ditegaskan setelah pernyataan mundur yang menandai jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998, 21 tahun kemudian publik menggemakan tagar reformasi dikorupsi. Penegasan bahwa reformasi dikorupsi juga tidak berlebihan. Sebab agenda-agenda reformasi memang mengalami kemunduran signifikan.

” Hal ini tampak nyata jika kita memerhatikan lemahnya penegakan HAM, menciutnya gerakan anti-korupsi, Parpol yang mempraktikkan nepotisme, pemerintah yang kurang transparan dan akuntabel, serta menguatnya politik identitas,” ujarnya.

Dari segi fakta lapangan dan pembuatan aturan hukum, sebut Ray, DPR maupun Pemerintah mengesankan langkah yang berlawanan dengan tujuan-tujuan awal reformasi. Sebut saja tentang UU KPK, Omnibus Law RUU Cipta Kerja, dan terakhir Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang penanganan Covid- 19.

  Beji dan Bendungan di Tegallalang Tertimbun Tanah Galian

” Selain prosesnya yang mengindikasikan ketertutupan, substansi dalam aturan-aturan tersebut juga berlawanan dengan prinsip pemerintahan bersih dan baik serta tidak sejalan dengan kehendak publik,”katanya.

Ray juga pesimis, aktivis 1998 yang masuk dalam kekuasaan mampu membawa agenda reformasi dalam kekuasaan. Alih-alih membantu perwujudan cita-cita reformasi, yang tampak justru mereka menjadi bagian dari siklus serupa yang sebelumnya terjadi pada aktivis 66 atau angkatan-angkatan berikutnya yang masuk dalam kekuasaan.

  Prakiraan Cuaca Senin Siang di Jakarta, BMKG: Sebagian Jakarta Diperkirakan Hujan

” Simbol-simbol perjuangan 98 banyak digunakan untuk menarik dukungan demi mendapatkan kekuasaan, tetapi setelahnya mereka banyak tidak peduli pada upaya perwujudan agenda reformasi,” kata Ray. (GUS).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here